Analis China Temukan Titik Lemah Militer AS akibat Perang Iran
Rudal Stinger di Capu Midia Surface to Air Firing Range, yang digunakan militer AS dalam latihan Spring Storm 17 di pantai Laut Hitam di Rumania, Senin, 20 Maret 2017.(AP PHOTO/VADIMGHIRDA)
13:36
29 April 2026

Analis China Temukan Titik Lemah Militer AS akibat Perang Iran

- Menipisnya persediaan amunisi Amerika Serikat (AS) akibat perang melawan Iran, serta kapasitas produksi yang terbatas dapat menjadi titik kelemahan kritis bagi militernya.

Ini menjadi rentan terutama ketika ada konflik dengan lawan yang lebih kuat di masa depan, menurut pengamat militer China dilansir SCMP, Kamis (23/4/2026).

Selama perang Iran, AS diperkirakan telah menggunakan sekitar setengah dari rudal pertahanan udara Patriot dan pencegat jarak jauh Terminal High Altitude Area Defence (THAAD).

Baca juga: Krisis Selat Hormuz: Babak Baru AS-China Rebutan Energi Masa Depan


Persediaan rudal pencegat Standard Missile 3 (SM-3) dan Standard Missile 6 (SM-6) yang diluncurkan dari kapal juga telah menurun secara signifikan, menurut laporan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada Selasa (21/4/2026).

Sementara itu, militer AS telah menghabiskan antara 40-70 dari 90 Rudal Serangan Presisi (PrSM), amunisi tercanggih yang dikembangkan untuk peluncur roket ganda Himar.

Laporan lembaga think tank tersebut juga mengungkapkan lebih dari seperempat dari 3.100 rudal jelajah Tomahawk dan hampir seperempat dari 4.400 Rudal Jarak Jauh Udara-ke-Permukaan (JASSM) siluman telah ditembakkan.

Baca juga: Peringatan Singapura, Selat Malaka Lebih Bahaya dari Hormuz jika AS-China Perang

Berisiko jika ada konflik dengan lawan yang setara

CSIS memperingatkan bahwa penipisan tersebut akan semakin membatasi pasukan AS jika terjadi konflik dalam waktu dekat, mengingat persediaan pra-perang yang tidak mencukupi.

“Perang dengan lawan yang setara seperti China akan menghabiskan amunisi dengan laju yang lebih besar,” kata lembaga tersebut.

Meskipun Pentagon telah menandatangani serangkaian kontrak yang akan membantu memperluas produksi rudal tahun ini, jangka waktu pengiriman memakan waktu tiga hingga lima tahun, bahkan dengan peningkatan kapasitas, kata laporan tersebut.

Baca juga: Gagal Dibendung, Trump Punya Lampu Hijau untuk Aksi Militer di Kuba

Para analis China mengatakan, terkurasnya amunisi militer AS disebabkan kurangnya antisipasi di Washington, persiapan yang buruk untuk konflik, serta basis industri AS yang lemah.

“Basis industri pertahanan AS masih menghadapi masalah kapasitas produksi yang tidak mencukupi… kecepatan produksi mereka tidak akan pernah bisa mengimbangi tingkat konsumsi militer AS,” kata pakar militer Wei Dongxu kepada stasiun televisi pemerintah CCTV.

AS akan mengalami kekurangan teknis yang signifikan ketika menghadapi perang dengan intensitas lebih tinggi melawan musuh yang lebih mampu, kata Wei.

Baca juga: Militer Iran Kukuh Kendalikan Selat Hormuz, Siap Hadapi Blokade AS

AS disebut salah perhitungan dalam perang Iran

Personel Angkatan Laut Amerika Serikat saat berjaga di kapal USS Monterey (CG 61) yang sedang transit di Selat Hormuz pada 3 Juni 2021.US NAVY/CHELSEA PALMER via AFP Personel Angkatan Laut Amerika Serikat saat berjaga di kapal USS Monterey (CG 61) yang sedang transit di Selat Hormuz pada 3 Juni 2021.

Dia mencatat bahwa investasi yang beragam dan sumber daya yang tersebar di industri pertahanan AS telah menghambat kapasitas produksinya.

Di sisi lain, peneliti militer Liu Yi mencatat bahwa militer AS berasumsi perang akan berlangsung singkat dan menentukan, akibatnya persiapan dan pengadaan amunisi ofensif jauh melampaui amunisi defensif.

Baca juga: Trump Minta AS Siap-siap Hadapi Blokade Iran Berkepanjangan

Dalam analisisnya, Liu menggemakan laporan CSIS, yang mengungkapkan tingkat konsumsi amunisi defensif yang lebih tinggi, seperti THAAD, Patriot, dan SM-3, dibandingkan dengan amunisi ofensif.

“Hal ini menyebabkan seluruh aparat militer AS menghadapi biaya yang sangat tinggi untuk pertahanan udara dan intersepsi ketika menghadapi serangan balasan Iran,” kata Liu.

Dia menambahkan bahwa kurang dari tiga minggu setelah perang dimulai, militer AS telah menghabiskan lebih banyak rudal pencegat daripada pengadaan yang dijadwalkan untuk sepanjang tahun 2026.

Tag:  #analis #china #temukan #titik #lemah #militer #akibat #perang #iran

KOMENTAR