Seoul Gelar Kontes Tidur Siang, Pelarian Warga dari Budaya ''Gila Kerja''
Ilustrasi tidur siang menggunakan hammock(petrenkod)
09:12
3 Mei 2026

Seoul Gelar Kontes Tidur Siang, Pelarian Warga dari Budaya ''Gila Kerja''

- Ratusan warga Seoul memadati sebuah taman di tepi Sungai Han pada Sabtu (2/5/2026). 

Bukan untuk berpiknik, mereka berkumpul atas undangan pemerintah kota untuk melakukan satu hal sederhana yang sangat mewah di Korea Selatan, yakni tidur.

Dikutip dari Reuters, Sabtu, acara tahunan bertajuk "Kontes Tidur Siang Singkat" ini memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya. 

Pemerintah Metropolitan Seoul sengaja menggelar acara ini sebagai respons terhadap fenomena kurang tidur kronis yang dialami warga akibat beban kerja ekstrem.

Baca juga: AS Akan Minta Korsel-Jepang Buatkan Kapal Perang, Trump Tak Puas Produk Lokal

Peserta pakai kostum unik

Ada persyaratan masuk yang diperbarui untuk calon peserta, yakni mengenakan pakaian yang cocok untuk putri tidur atau pangeran, datang dalam keadaan lelah, dan perut kenyang.

Untuk sebuah kota metropolitan yang terkenal dengan pusat perbelanjaan 24 jam, persaingan ketat, dan es kopi Americano, kelelahan yang terpancar di halaman rumput itu sangat terasa.

"Antara persiapan ujian dan pekerjaan paruh waktu, saya hanya tidur tiga atau empat jam setiap malam, dan menggantinya dengan tidur siang di meja kerja," kata Park Jun-seok, yang tampil mengenakan jubah sutra merah tua khas raja Dinasti Joseon.

"Saya di sini untuk memamerkan kemampuan tidur siang saya dan untuk menunjukkan persis bagaimana seorang raja tidur," sambungnya.

Baca juga: Terbongkar Setelah 5 Tahun, Ini Penyebab 2 Jet Tempur Korsel Bertabrakan

Di dekatnya, Yoo Mi-yeon (24), seorang guru bahasa Inggris dari Ilsan di utara Seoul, tampak menonjol dengan pakaian terusan bertema koala yang mewah dan kebesaran.

"Saya selalu menderita insomnia, saya kesulitan untuk tidur, dan mudah terbangun," jelas dia. 

"Koala terkenal karena tidurnya yang nyenyak. Saya datang dengan berdandan seperti koala dengan harapan bisa meminjam sedikit keajaiban mereka," tambahnya.

Baca juga: Pengadilan Menaikkan Hukuman Eks Presiden Korsel, Dinilai Halangi Proses Hukum

Masalah kronis warga Korsel

Memasuki tahun ketiga berturut-turut, kompetisi tidur ini menyoroti masalah kronis bagi warga Korea Selatan. 

Data menunjukkan, Korea Selatan adalah salah satu negara dengan tingkat kerja berlebihan dan kurang tidur tertinggi di antara negara-negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Akibatnya, masyarakat memiliki jumlah jam tidur yang paling sedikit.

Baca juga: Usai Banding, Hukuman Eks Ibu Negara Korsel Malah Ditambah Jadi 4 Tahun Penjara

Saat jam menunjukkan pukul tiga dan penutup mata mulai dipasang di seluruh taman, para petugas berkeliling untuk mengukur detak jantung, indikator tidur nyenyak dan damai.

Pemenang kontes tersebut adalah seorang pria berusia 80-an. Hwang Du-seong, seorang pekerja kantoran berusia 37 tahun, menjadi juara kedua.

"Saya benar-benar kelelahan, karena sering bekerja shift malam di samping pergi bekerja setiap hari, ditambah saya juga banyak mengemudi untuk pekerjaan," ujarnya.

"Jadi ketika saya melihat kontes ini, saya bertekad untuk tidur agar dapat mengisi ulang energi sepenuhnya di tengah semilir angin sungai, dan saya sangat senang bisa meraih juara kedua, untungnya," pungkasnya.

Tag:  #seoul #gelar #kontes #tidur #siang #pelarian #warga #dari #budaya #gila #kerja

KOMENTAR