Mengapa Ayah Tetap Wajib Menafkahi Anak Pasca Bercerai? Ini Alasannya
Ilustrasi ayah dan anak perempuan.(Dok. Freepik/Freepik)
19:35
16 April 2026

Mengapa Ayah Tetap Wajib Menafkahi Anak Pasca Bercerai? Ini Alasannya

Ribuan ayah di Surabaya tercatat belum menunaikan kewajiban nafkah anak pasca perceraian.

Fenomena ini tak hanya menjadi persoalan hukum, tetapi juga menyoroti cara pandang orangtua terhadap peran dan tanggung jawab setelah berpisah.

Nafkah adalah Hak Anak

Dalam hukum di Indonesia, kewajiban ayah untuk menafkahi anak tetap melekat meski perceraian telah terjadi.

Hal ini diatur dalam Pasal 41 huruf (b) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang menegaskan bahwa ayah tetap memiliki tanggung jawab untuk menanggung biaya pemeliharaan dan pendidikan anak sesuai dengan kemampuannya.

Selain itu, Pasal 321 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) juga menyatakan bahwa kewajiban orangtua untuk memberi nafkah kepada anak tetap berlaku meski telah bercerai.

Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi, ibu atau wali anak dapat menempuh jalur hukum melalui Pengadilan Negeri untuk melindungi hak anak.

Artinya, nafkah tidak bergantung pada hubungan baik atau buruk dengan mantan pasangan. Anak tetap memiliki hak yang harus dipenuhi oleh kedua orangtuanya.

Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., menjelaskan bahwa masih banyak ayah yang keliru memaknai hal ini.

"Dalam ruang praktek saya biasanya ditemukan mekanisme pertahanan diri seperti rasionalisasi, misalnya berpikir 'anak sudah ada yang mengurus kok, bukan tanggung jawab saya lagi kan ibunya yang mengasuh, dll', untuk mengurangi rasa bersalah atau konflik batin," jelas Meity saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/4/2026).

Baca juga: Mengapa Harga Diri Pria Begitu Terikat pada Nafkah? Psikolog Ungkap Alasannya

Lebih dari 8.000 ayah di Surabaya masih abai menafkahi anak. Psikolog ungkap faktor emosional hingga peran yang keliru di balik fenomena ini.
freepik Lebih dari 8.000 ayah di Surabaya masih abai menafkahi anak. Psikolog ungkap faktor emosional hingga peran yang keliru di balik fenomena ini.

Cara Mengubah Pola Pikir Ayah

Menurut Meity, mengubah cara pandang tersebut tidak bisa dilakukan dengan satu pendekatan saja.

Diperlukan upaya yang menyentuh aspek kognitif, emosional, hingga sosial.

Secara kognitif, edukasi menjadi langkah awal yang penting. Ayah perlu memahami bahwa nafkah merupakan bagian dari kebutuhan dasar anak, mulai dari pangan, pendidikan, hingga kesejahteraan psikologis.

Di sisi lain, pendekatan emosional juga tak kalah penting. Ayah perlu diajak kembali membangun keterikatan dengan anak. Ketika empati tumbuh, kesadaran untuk memenuhi tanggung jawab biasanya akan ikut menguat.

“Pendekatan yang efektif bukan dengan menyalahkan, tetapi mengajak ayah melihat dirinya sebagai figur penting yang tetap dibutuhkan anak,” kata Meity.

Baca juga: Di Balik Ribuan Ayah yang Abai Menafkahi Anak di Surabaya, Ini Penjelasan Psikolog

Peran Lingkungan dan Penegakan Hukum

Selain dari dalam diri individu, perubahan juga perlu didukung oleh lingkungan sosial.

Kampanye publik, figur teladan, hingga norma sosial yang kuat dapat membantu membentuk pemahaman bahwa menjadi ayah adalah peran seumur hidup.

Di sisi lain, penegakan hukum juga menjadi faktor penting. Kebijakan yang tegas dapat mendorong kepatuhan, sekaligus memberikan perlindungan bagi anak agar haknya tetap terpenuhi.

Langkah ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab orangtua tidak berhenti ketika hubungan pernikahan berakhir.

Peran sebagai ayah dan ibu tetap berjalan seiring tumbuh kembang anak.

Baca juga: Ayah Baru Mudah Marah Setelah Anak Lahir? Bisa Jadi Gejala Depresi Pascapersalinan

Dampak Jika Nafkah Diabaikan

Mengabaikan kewajiban nafkah tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga psikologis. Anak berisiko mengalami rasa tidak aman, kehilangan, hingga penurunan kepercayaan diri.

Sementara itu, ibu yang harus menjalani peran ganda sebagai pengasuh sekaligus pencari nafkah lebih rentan mengalami kelelahan mental dan stres berkepanjangan.

Karena itu, perubahan pola pikir menjadi kunci utama.

Ketika ayah memahami bahwa nafkah adalah bentuk tanggung jawab sekaligus wujud kehadiran dalam kehidupan anak, maka kewajiban tersebut tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan bagian dari peran yang tak terpisahkan.

Baca juga: Kata-Kata untuk Ayah yang Penuh Rasa Terima Kasih

Tag:  #mengapa #ayah #tetap #wajib #menafkahi #anak #pasca #bercerai #alasannya

KOMENTAR