Tantangan WFH bagi ASN Perempuan, Bagaimana Membagi Waktu Kerja dan Urusan Rumah?
- Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) telah berjalan secara berkala setiap Jumat sejak April lalu.
Penyesuaian skema kerja ini diberlakukan oleh pemerintah daerah sebagai langkah mengurangi beban kemacetan Ibu Kota.
Namun, di balik kelonggaran karena ditiadakannya kehadiran fisik, perpindahan ruang kerja dari meja kantor menuju kediaman pribadi menciptakan tantangan yang sangat kompleks bagi para pegawai perempuan.
Baca juga: Suka Duka WFH Jumat, ASN Cemas Dianggap Mangkir Kerja
Bagi seorang ibu bekerja, implementasi WFH membuat mereka menyatukan dua peran yang biasanya terpisah oleh jarak komuter.
Batas antara tanggung jawab profesional di hadapan negara dan kewajiban pengasuhan di rumah tangga pun buram. Terlebih, tidak jarang urusan kantor dan gangguan domestik datang menghampiri dalam satu waktu yang bersamaan.
Tantangan beban ganda dan siasat mengelola urusan domestik
Selesaikan pekerjaan rumah sebelum jam kerja dimulai
Mengatur ulang jadwal harian merupakan strategi penting yang perluu dieksekusi sejak matahari terbit.
Bagi Ika Meilani Untari (42), yang bertugas sebagai ASN di Pemkot Jakarta Timur, manajemen waktu di awal hari adalah langkah agar waktu dinasnya tidak berubah menjadi "arena kekacauan".
Baca juga: 6 Cara Tetap Produktif Saat WFH, Bisa Diterapkan ASN di Rumah
Ika Meilani Untari (42), pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Timur.
"Kalau aku, biasanya aku akan menyelesaikan semua pekerjaan itu sebelum jam kerja," kata dia saat dihubungi pada Minggu (3/5/2026).
Ibu dari seorang remaja laki-laki bernama Rasyad (16) ini sangat memprioritaskan ketenangan dalam menganalisis data pekerjaannya.
Oleh karenanya, ia tidak mau membiarkan sisa pekerjaan rumah tangga apa pun belum tersentuh ketika jam kerja daring sudah resmi dimulai pada pagi hari.
"Jam delapan itu diusahakan sudah beres semua gitu urusan rumah," lanjut Ika.
Tinggalkan pekerjaan rumah demi urusan darurat kantor
Kendati jadwal ideal sudah dirancang dengan saksama di pagi hari, kejadian di luar perencanaan sering muncul di sela-sela jam kerja.
Instruksi kerja tambahan dari instansi bisa saja muncul secara tiba-tiba di grup ketika pegawai sedang mencuri waktu menyapu lantai atau merapikan dapur.
"Kalau misalkan memang urgent, sangat urgent dan harus diselesaikan detik itu juga, ya pasti kita akan tinggalkan apa yang kita kerjakan," tutur Ika.
Jika berada pada kondisi tersebut, Ika mengungkap, kemampuan meletakkan skala prioritas tertinggi pada tingkat kedaruratan sebuah pekerjaan sangat diuji.
Baginya, memindahkan rutinitas kerja ke rumah bukan berarti boleh melepaskan kesiagaan birokrasi begitu saja.
Siasat tetap fokus bekerja di tengah rutinitas mengurus anak
Beban ganda dengan tingkat kesulitan yang lebih rumit dihadapkan pada pekerja yang masih memiliki balita di rumah, seperti Shinta Kurniaputri (34).
Baca juga: Duduk Seharian Saat WFH? Ini Cara Melindungi Punggung dari Risiko Low Back Pain
Shinta Kurniaputri (34), pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Timur.
ASN Pemkot Jakarta Timur itu harus memutar otak kala membesarkan dua buah hatinya, Anan (7) dan Shaka (1), sembari memelototi rentetan huruf di layar laptop.
Tanggung jawab naluriah seorang bayi yang selalu ingin menempel pada ibunya kerap bersinggungan langsung dengan tugas mendadak dari pimpinan divisi.
"Kecuali kalau kerjaannya agak santai, enggak terlalu buru-buru, bisa sambil main, bisa sambil dikerjain gitu sih," kata Shinta saat dihubungi pada Minggu.
Namun, ketika pekerjaan sedang tidak bisa diganggu gugat, memisahkan diri secara fisik menjadi satu-satunya resolusi yang tepat.
Shinta akan menyerahkan pengawasan anaknya ke anggota keluarga yang membantunya di rumah.
"Jadi kadang ya udah, akunya menghilang dulu gitu loh kalau mau fokus kerja. Jadi kadang memang tidak bareng si anak bayi ini," ujar dia.
Baca juga: Banyak Perempuan Menolak Naik Jabatan, Dilema Beban Ganda di Rumah
Menyikapi dilema dan rasa bersalah ibu bekerja saat WFH
Perasaan tak nyaman dan rasa bersalah sebetulnya adalah hal yang wajar kala seorang ibu harus mengesampingkan rengekan buah hati demi pekerjaan kantor.
Namun bagi pekerja yang anaknya sudah menginjak bangku kelas satu SMA seperti Ika, kemandirian anak membuat konflik batin tersebut tak pernah lagi muncul ke permukaan.
"Rasa bersalah enggak ada, karena ya itu saja, kalau di rumah kan kita bisa sambil bekerja, sambil ngemong anak, sambil ngelihatin gitu," kata dia.
Lain ceritanya dengan figur ibu yang dikelilingi batita setiap harinya. Perasaan sedih itu dipandang sebagai sebuah konsekuensi tak terelakkan.
"Ya merasa bersalah sih kadang ada gitu ya. Namanya juga ibu-ibu working mom gitu kan," kata Shinta.
Menyikapi dilema itu, ketegasan memilah ruang privasi untuk berkonsentrasi di tengah jam kantor menjadi kemampuan dasar yang mau tak mau harus terus dilatih demi menjaga kewarasan emosional.
"Kalau memang yang urgent banget harus fokus, memang harus misah dulu," tutup dia.
Tag: #tantangan #bagi #perempuan #bagaimana #membagi #waktu #kerja #urusan #rumah