Tips Membangun Kesejahteraan Digital Anak Lewat Kebiasaan Sederhana
- Di era digital, tantangan orangtua tidak lagi sekadar memastikan anak makan sehat atau berprestasi di sekolah, tetapi juga mendampingi mereka berinteraksi dengan teknologi dan internet yang hadir hampir di setiap aspek kehidupan.
Banyak orangtua merasa harus terus mengawasi layar anak atau menerapkan berbagai aturan ketat untuk melindungi mereka dari risiko dunia digital. Namun, menciptakan lingkungan digital yang sehat di rumah tidak selalu membutuhkan pola pengasuhan yang rumit.
Menurut Product Marketing Manager, Brand & Reputation, Google Indonesia, Dora Songco, langkah pengasuhan ini dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dibangun di rumah, termasuk pada perilaku orangtua saat berinteraksi dengan gawai di depan anak.
"Anak adalah peniru ulung. Mau ngomong sampai berbusa kalau kitanya tidak berubah, anak akan melihat (apa yang kita lakukan)," ujar Dora dalam press briefing Google Indonesia bertajuk "AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia" di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Sikap orangtua saat memegang gawai akan diamati secara langsung, karena anak merekam dan mencontoh setiap tindakan tersebut di kesehariannya.
Baca juga: Kemahiran Anak Pakai Gawai Perlu Diimbangi Kemampuan Berpikir Kritis
Langkah sederhana membangun kesejahteraan digital
Product Marketing Manager, Brand & Reputation, Google Indonesia, Dora Songco, dalam acara press briefing Google Indonesia bertajuk AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Membangun hubungan sehat antara anak dan teknologi bermula dari komunikasi dua arah. Daripada memposisikan diri sebagai pengawas yang kaku, orangtua perlu hadir sebagai teman diskusi.
Misalnya saja dengan duduk di ruang keluarga dan menonton tayangan yang disukai si kecil bersama-sama. Lewat aktivitas bersantai ini, orangtua bisa memahami alasan di balik minat anak terhadap suatu konten tanpa harus langsung menghakiminya.
Baca juga: Banyak Main Gawai Bikin Anak Kesulitan Memegang Pensil?
"Kita cari tahu sebenarnya kenapa sih anak itu tertarik sama tontonannya, sama konten-kontennya. Baru habis itu kita kasih batasan-batasannya," ungkap Psikolog Klinis Dewasa Marsha Tengker, M.Psi., Psikolog.
Psikolog yang akrab disapa Caca itu melanjutkan, validasi atas perasaan dan minat anak sangat diperlukan agar mereka merasa dihargai.
Jika fondasi kedekatan emosional ini sudah terbentuk, penyampaian aturan maupun kesepakatan terkait durasi pemakaian gawai akan diterima dengan lebih lapang dada.
"Kita bangun koneksinya dengan anak. Anak terbuka sama kita, kita validasi mereka, biar mereka terkoneksi dengan gadget-nya pun lebih sehat," sebut Caca.
Baca juga: Kenapa Pekerja Muda Rentan Burnout? Psikolog Soroti Tekanan Karier dan Media Sosial
Psikolog Klinis Dewasa sekaligus Founder Amanasa, Marsha Tengker, M.Psi., Psikolog, dalam acara press briefing Google Indonesia bertajuk AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Latih konsistensi anak dengan bantuan fitur keamanan digital
Tantangan lain yang sering dihadapi orangtua adalah displin dalam menerapkan kesepakatan pemakaian gawai. Orangtua bisa memanfaatkan fitur keamanan untuk anak-anak di bawah usia.
Platform seperti YouTube, misalnya, sudah dilengkapi perlindungan berlapis, mulai dari pengingat waktu istirahat secara berkala, hingga penyaringan konten berdasarkan rentang usia anak.
Ketika fitur pembatasan durasi menyala otomatis, orangtua dapat terhindar dari konflik langsung dengan anak karena sistem aplikasi yang akan memberi peringatan jeda. Hal yang paling ditekankan dalam keseluruhan proses ini adalah komitmen.
Baca juga: Pelarangan Media Sosial pada Remaja Bisa Picu Perlawanan
Bimbing anak bereksplorasi tanpa mematikan rasa ingin tahu
Penerapan kebiasaan sederhana di rumah bertujuan murni untuk melindungi, bukan mengurung ruang gerak anak.
Guru sekolah dasar sekaligus kreator konten edukasi, Nanda Yurani, mengingatkan bahwa tujuan utama pengasuhan bukanlah pengekangan.
"Tugas kita bukan membatasi rasa ingin tahu anak, melainkan membimbing mereka agar dapat menjelajahi dunia digital dengan aman," ucap Nanda.
Baca juga: Cara Membimbing Anak Menyaring Konten Digital dengan Metode T-H-I-N-K
Guru sekolah dasar sekaligus kreator konten edukasi, Nanda Yurani, dalam acara press briefing Google Indonesia bertajuk AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Ia menyoroti betapa besarnya potensi internet sebagai sarana eksplorasi minat apabila proses belajarnya didampingi secara proaktif.
Akses menuju informasi digital tetap membuka peluang positif dan memperluas wawasan anak, jika diarahkan dengan metode yang benar.
"Teknologi membuka peluang yang luar biasa bagi anak untuk belajar dan mengeksplorasi hal-hal yang mereka sukai," tutur Nanda.
Oleh karena itu, pembentukan rutinitas baik di rumah harus selalu dibarengi dengan pola pikir terbuka agar anak bisa menemukan tontonan edukatif dengan nyaman.
Baca juga: Bukan Melarang, Ini Cara Bijak Orangtua Mendampingi Anak di Dunia Digital Menurut Psikolog
Tag: #tips #membangun #kesejahteraan #digital #anak #lewat #kebiasaan #sederhana