Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
- Iran telah menutup Selat Hormuz selama hampir empat minggu di tengah konfliknya dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Penutupan Selat Hormuz menyebabkan kekacauan di pasar minyak global, yang hingga saat ini belum ada tanda-tanda kapan situasi ini akan berakhir.
Seiring memburuknya krisis energi, Presiden AS Donald Trump sempat menggembar-gemborkan upaya diplomatik untuk mengakhiri blokade tersebut.
Ia juga berupaya mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah dan mempertimbangkan kemungkinan pengawalan Angkatan Laut AS untuk kapal tanker minyak.
Namun, Iran masih memiliki keunggulan dalam banyak hal di Selat Hormuz yang mempersulit AS atau negara lain untuk mengendalikan selat tersebut secara militer. Apa saja?
Baca juga: Jurus China Tetap Tenang Meski Selat Hormuz Ditutup, Ketahanan Energi Harga Mati
Wilayah Iran menguntungkan secara geografis
Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 38,6 kilometer pada titik tersempitnya, dan hampir semua lalu lintas melewati dua jalur pelayaran utama yang bahkan lebih sempit lagi.
Nick Childs, peneliti senior untuk Angkatan Laut dan Keamanan Maritim di International Institute for Strategic Studies (IISS), menggambarkan titik itu sebagai titik rawan.
“Anda dapat berpendapat bahwa ini adalah titik rawan yang sangat menantang karena tidak ada alternatif lain,” kata Nick Childs dilansir CNN, Jumat (27/3/2026).
Salah satu tantangan bagi kapal dan operasi pengawalan kapal potensial adalah ruang gerak yang sangat terbatas.
“Di lautan lepas selalu ada pilihan untuk mengubah rute, (tetapi) di titik rawan atau laut sempit, pilihan itu tidak mungkin,” kata Kevin Rowlands, editor jurnal di lembaga think tank Royal United Services Institute.
Baca juga: Tandai Negara yang Ogah Bantu Buka Selat Hormuz, Trump: Berjuanglah Sendiri
“Itu berarti Iran tidak perlu mencari dan menemukan targetnya. Mereka bisa duduk dan menunggu,” sambungnya.
Iran juga memiliki garis pantai hampir 1.600 kilometer, di mana mereka dapat meluncurkan rudal anti-kapal.
Baterai rudal tersebut bersifat mobile, sehingga lebih sulit untuk dilumpuhkan, dan garis pantai Teluk yang panjang berarti Iran dapat menyerang jauh melampaui selat itu sendiri.
“Di sisi utara, wilayah Iran, bukanlah dataran datar. Ada perbukitan, pegunungan, lembah, daerah perkotaan, dan pulau-pulau lepas pantai. Semua ini membuat deteksi ancaman yang datang menjadi lebih sulit dan memudahkan Iran untuk menyembunyikan sistem senjata bergerak,” kata Rowlands.
Baca juga: Kapal Malaysia Kini Dapat Izin Lewati Selat Hormuz Tanpa Biaya
Iran memiliki persenjataan non-konvensional
Perahu berlayar di perairan Selat Hormuz dari arah Khasab di Oman, Semenanjung Musandam, 25 Juni 2025.
Meski AS telah melemahkan banyak kemampuan angkatan laut konvensional Iran, ancaman terbesar masih berasal dari persenjataan non-konvensional Iran.
Itu termasuk drone, kapal serang cepat berukuran kecil, dan bahkan perahu tanpa awak yang berisi bahan peledak.
Para analis menyebut, kemampuan Iran untuk menimbulkan kerusakan pada kapal-kapal komersial melalui berbagai kemampuan ofensifnya telah berkurang sejak perang dimulai. Namun, hampir tidak mungkin untuk mengurangi risiko hingga nol.
Iran telah menyerang setidaknya 19 kapal di dekat Selat Hormuz, di Teluk Persia, dan di Teluk Oman.
Baca juga: Kapal Malaysia, Thailand, dan Lima Negara Boleh Lewati Selat Hormuz, Indonesia Bagaimana?
Iran bahkan tidak perlu menghancurkan kapal untuk berhasil mencapai tujuannya mengganggu perdagangan energi global.
Sebab, selama ancaman masih cukup tinggi, perusahaan pelayaran kemungkinan besar tidak ingin mengambil risiko melanjutkan transit.
Meski demikian, beberapa kapal negara yang memiliki hubungan dengan Iran, seperti China, India, dan Pakistan berhasil melewati selat tersebut.
Iran mengatakan bahwa "kapal-kapal yang tidak bermusuhan" dapat melintasi selat tersebut jika mereka berkoordinasi dengan pihak berwenang Iran.