Pakistan Naikkan Harga BBM hingga 55 Persen akibat Perang Iran
- Pakistan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global akibat perang yang terjadi di Timur Tengah.
Diketahui, negara Asia Selatan ini mengimpor sebagian besar minyak mentahnya dari kawasan Teluk Timur Tengah, terutama dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melalui Selat Hormuz.
Merespons penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan kenaikan harga minyak dunia, Pemerintah Pakistan menaikkan harga bensin sebesar 43 persen dan harga solar 55 persen.
Baca juga: Berkaca Krisis Minyak 1970-an, Apakah Kali Ini Lebih Buruk?
Dilansir CNN, Jumat (3/4/2026), Menteri Energi Pakistan Ali Pervaiz Malik mengumumkan pada Kamis (2/3/2026) bahwa kenaikan tersebut membuat harga bensin menjadi 6,25 dollar AS (sekitar Rp 106.000) per galon dan solar sekitar 7 dollar AS (sekitar Rp 118.000) per galon.
"Kenaikan harga tak terhindarkan karena harga pasar internasional tak terkendali setelah perang AS-Iran," kata Ali Pervaiz Malik.
Bulan lalu, Pakistan menaikkan harga konsumen untuk solar dan bensin sekitar 20 persen, dengan alasan kenaikan harga minyak yang dipicu oleh perang Iran.
Baca juga: Trump Sesumbar Tak Butuh Minyak Timur Tengah, Dunia Diminta Urusi Selat Hormuz
Pengguna sepeda motor akan menerima subsidi sebesar 100 rupee Pakistan (sekitar Rp 6.000) per liter bahan bakar selama tiga bulan, dengan batasan maksimal 20 liter per bulan.
Menurut laporan Reuters, Jumat (3/4/2026), subsidi tersebut bertujuan untuk memberikan bantuan kepada petani kecil, pengendara sepeda motor, dan transportasi barang dan penumpang antar kota.
Menteri Keuangan Pakistan Muhammad Aurangzeb mengatakan, pemerintah telah memberikan subsidi sebesar 129 miliar rupee Pakistan (sekitar Rp 7,8 triliun) dalam tiga minggu terakhir.
Baca juga: Krisis Minyak Dunia Juga Pernah Terjadi 1970-an, Lebih Parah Mana Dibanding Sekarang?
Namun, hal itu tidak lagi mampu dilakukan oleh pemerintah karena kenaikan harga minyak internasional.
"Oleh karena sumber daya terbatas dan belum ada tanda-tanda perang ini akan berakhir, tidak mungkin untuk melanjutkan subsidi secara menyeluruh," kata Muhammad Aurangzeb.
Untuk diketahui, harga minyak AS melonjak lebih dari 11 persen pada Kamis (2/4/2026), sedangkan minyak Brent meroket lebih dari 7 persen dalam perdagangan yang bergejolak sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi militer akan diintensifkan.
Tag: #pakistan #naikkan #harga #hingga #persen #akibat #perang #iran