Blokade Laut Sering Menangkan Perang, tapi Langkah Trump Bisa Jadi Bumerang
- Langkah Presiden AS Donald Trump menerapkan blokade pelayaran di Selat Hormuz membangkitkan kembali salah satu teknik peperangan tertua di dunia.
Meski dianggap sebagai alat yang sangat efektif untuk melumpuhkan musuh, sejarah menunjukkan bahwa blokade laut bukanlah strategi tanpa risiko atau tanpa celah.
Blokade adalah bentuk perang ekonomi yang bertujuan memutus jalur perdagangan vital guna membuat musuh kekurangan materi dan harta benda.
Baca juga: Armada Perang AS Menuju Dekat RI, Buru Kapal Iran
Dalam hukum internasional, blokade secara resmi diakui sebagai tindakan perang, yang menjelaskan mengapa para pemimpin dunia sering menggunakan istilah yang lebih halus seperti "sanksi", "embargo", atau "karantina".
Sebagai contoh, pada Krisis Rudal Kuba 1962, Presiden John F Kennedy menyebut pengadangan kapal Uni Soviet sebagai "karantina ketat".
Kini, di Selat Hormuz, para analis dari Lloyd's List Intelligence menyebut situasi saat ini sebagai "blokade ganda", di mana Iran menembaki kapal yang melintas, sementara AS memblokade akses pelabuhan Iran.
Baca juga: Isu Akses Udara RI Mencuat, Dunia Kini Perhatikan Selat Malaka
Blokade laut dalam sejarah perang dunia
Sepanjang sejarah, dikutip dari Wall Street Journal, blokade terbukti mampu memaksa negara-negara besar untuk bertekuk lutut
Di Yunani kuno, negara kota Sparta memaksa Athena menyerah dengan memblokir pasokan gandumnya.
Blokade angkatan laut Inggris membantu mengalahkan Napoleon, yang pada gilirannya mencoba merugikan pedagangnya dengan melarang produk mereka memasuki Eropa.
Selama Perang Saudara Amerika Serikat, baik Utara maupun Selatan sama-sama mencoba melakukan blokade.
Baca juga: Cerita di Balik Perundingan Damai, 24 Jet Pakistan Kawal Delegasi Iran Tangkal Israel
“Meskipun banyak yang telah berubah sejak zaman kapal layar, prinsip-prinsip dasar blokade angkatan laut tetap sama pentingnya saat ini seperti halnya selama Perang Saudara,” menurut sebuah makalah akademis tentang praktik tersebut oleh US Naval War College.
Secara historis, blokade terutama dirancang untuk merusak ekonomi musuh dengan melemahkan kemampuannya untuk mengekspor.
Namun dalam Perang Dunia I, Jerman dan Inggris menempuh pendekatan yang berbeda dengan blokade yang saling berlawan, memutus akses pihak lain terhadap barang-barang asing, khususnya makanan.
Sementara, AS pada awal Perang Dunia II menghentikan impor minyak melalui laut dari Jepang, menargetkan kerentanan yang justru ingin diatasi Tokyo dengan mencoba menjajah negara-negara tetangganya di Asia yang kaya akan sumber daya.
Baca juga: Teheran Tak Akan Serahkan Uranium ke AS: Bagi Kami seperti Tanah Iran
Strategi Trump merupakan taktik kuno karena menargetkan pendapatan Iran, bukan impornya.
"Dia bersikap seperti Napoleon," kata Stephen Broadberry, seorang profesor sejarah ekonomi di Universitas Oxford.
Blokade India terhadap pelabuhan-pelabuhan Pakistan membantu Bangladesh memperoleh kemerdekaan dari Pakistan pada 1971.
Pada akhir Perang Vietnam, AS menjatuhkan ranjau di sekitar pelabuhan Haiphong di Vietnam Utara, yang secara efektif menghentikan pasokan yang melewati pelabuhan tersebut dan memberi Washington pengaruh dalam perundingan perdamaian.
Baca juga: Trump Tak Mau Lanjutkan Gencatan Senjata dengan Iran, Deadline Rabu
Evolusi blokade
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026.
Namun, sejak perang dunia, blokade angkatan laut sebagian besar telah tergantikan oleh bentuk-bentuk perang ekonomi yang lebih modern.
Pertama, menghancurkan ekonomi musuh saat ini lebih bergantung pada kekuatan udara yang unggul daripada menguasai lautan.
Kemungkinan, senjata paling ampuh dari blokade kontemporer adalah kemampuan unik AS untuk membekukan negara saingan, Iran, Korea Utara, Rusia dari sistem keuangan internasional berbasis dollar.
AS bukanlah satu-satunya negara yang menggunakan sanksi ekonomi sebagai senjata.
Selama lebih dari tiga tahun, dimulai pada 2017, Arab Saudi menolak akses darat, laut, dan udara ke negara semenanjung Qatar dalam kampanye tekanan yang juga didukung oleh Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir.
Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir juga mengendalikan wilayah laut dan udara Yaman.
Baca juga: Iran Peringatkan AS, Selat Hormuz Akan Ditutup Lagi jika Blokade Berlanjut
Risiko besar blokade laut
Penelitian Broadberry tentang ini menunjukkan, blokade yang berhasil berlangsung dalam jangka waktu yang lama karena membutuhkan waktu untuk memberikan dampak dan disertai dengan tekanan lain, seperti kekuatan militer.
"Blokade cenderung gagal karena para pembuat kebijakan selalu meremehkan pilihan yang dimiliki musuh untuk melewatinya," kata Broadberry.
Menurutnya, Inggris selamat dari blokade Jerman pada Perang Dunia I karena mulai mengimpor gandum dalam konvoi multi-kapal yang dilindungi oleh kapal perang dan berhasil mencapai pelabuhan dengan selamat lebih dari 99 persen.
Sebaliknya, Jerman terdesak ke ambang kelaparan karena blokade balasan Inggris memperburuk fakta domestik bahwa kuda dan petani dikirim dari ladang gandum ke medan perang.
Baca juga: AS Tunda Kirim Senjata ke Eropa Imbas Perang di Iran, Sekutu Mulai Was-was
Blokade turut berisiko menimbulkan masalah dengan negara lain.
Jika tindakan AS di Hormuz menghentikan aliran minyak Iran, kekurangan akan sangat parah di China dan India, serta berpotensi menyeret mereka lebih langsung ke dalam konflik.
“Kalkulator politik berubah,” kata Sidharth Kaushal, seorang ahli kekuatan angkatan laut di lembaga think tank Inggris, Royal United Services Institute.
Graham Allison, seorang profesor pemerintahan di Universitas Harvard, mengatakan bahwa keputusan Trump untuk mengabaikan diplomasi dengan Iran dan menyatakan blokade dapat mendorong Beijing untuk mencoba hal serupa guna mencapai klaimnya atas Taiwan.
“Kita tidak seharusnya mengharapkan bahwa AS akan menjadi satu-satunya negara yang mengikuti aturan baru ini,” ujarnya.
Tag: #blokade #laut #sering #menangkan #perang #tapi #langkah #trump #bisa #jadi #bumerang