Kelaparan Ekstrem Melanda Dunia di 2026, Gaza dan Sudan Paling Parah
Warga Palestina menunggu pasokan makanan bantuan di kota Rafah di Jalur Gaza selatan, pada 14 Februari 2024. [Dok.Antara]
17:28
25 April 2026

Kelaparan Ekstrem Melanda Dunia di 2026, Gaza dan Sudan Paling Parah

Laporan Global Report on Food Crises (GRFC) 2026 mengungkap lonjakan drastis angka kelaparan akut yang kini menjerat sekitar 266 juta jiwa di berbagai negara.

Kondisi memprihatinkan ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam meredam dampak konflik bersenjata dan guncangan iklim ekstrem sepanjang tahun lalu.

Dikutip dari Al Jazeera, fenomena ini menandai sejarah kelam karena untuk pertama kalinya status kelaparan ekstrem atau famine dikonfirmasi secara bersamaan di wilayah Gaza dan Sudan.

Anak-anak Palestina antre saat menerima bantuan makanan di Kota Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (15/6/2024). [Dok.Antara]Anak-anak Palestina antre saat menerima bantuan makanan di Kota Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, Sabtu (15/6/2024). [Dok.Antara]

Penyebaran krisis pangan kini mencapai level yang jauh lebih berbahaya dibandingkan satu dekade lalu dengan tren peningkatan populasi terdampak yang konsisten.

Meskipun cakupan wilayah pemantauan menyusut, intensitas kebutuhan bantuan kemanusiaan di titik-titik krisis justru mengalami penebalan yang signifikan.

Data terbaru menunjukkan sebanyak 1,4 juta jiwa saat ini terperangkap dalam kondisi katastrofe yang merupakan level tertinggi kerawanan pangan.

Seorang anak pengungsi yang menderita malnutrisi mendapatkan perawatan di dalam bangsal anak di Rumah Sakit Banadir, Mogadishu, ibukota Somalia, Kamis (25/8). [Dok.Antara]Seorang anak pengungsi yang menderita malnutrisi mendapatkan perawatan di dalam bangsal anak di Rumah Sakit Banadir, Mogadishu, ibukota Somalia, Kamis (25/8). [Dok.Antara]

Gaza menjadi wilayah dengan situasi paling tragis di mana sekitar 32 persen populasinya atau 640.700 orang berada di ambang kematian akibat lapar.

Sudan mengekor di posisi kedua dengan jumlah warga terdampak mencapai 637.200 jiwa seiring eskalasi kekerasan yang memutus akses logistik pangan.

Negara lain seperti Sudan Selatan, Yaman, Haiti, hingga Mali juga mencatatkan ribuan warga yang hidup dalam kondisi kekurangan gizi yang mematikan.

Kematian akibat kelaparan kini menjadi ancaman nyata dengan rata-rata dua jiwa melayang per 10.000 penduduk setiap harinya di zona merah.

Dominasi Konflik Sebagai Pemicu Utama Kelaparan

Kekerasan dan peperangan tetap menjadi faktor tunggal terbesar yang memicu kerawanan pangan akut bagi hampir 150 juta penduduk dunia.

Selain faktor senjata, anomali cuaca yang ekstrem merusak tatanan produksi pangan di 16 negara dan menyengsarakan puluhan juta warga lainnya.

Guncangan ekonomi global turut memperparah keadaan dengan membatasi daya beli masyarakat di wilayah-wilayah yang sudah rentan secara finansial.

Ironisnya di tengah kebutuhan yang melonjak, pendanaan untuk bantuan kemanusiaan internasional justru merosot ke level terendah sejak tahun 2017.

Penurunan bantuan ini menciptakan celah besar yang membuat pemulihan krisis pangan di lapangan menjadi semakin sulit dilakukan secara cepat.

Generasi mendatang terancam hilang akibat sekitar 35,5 juta anak di 23 negara kini menderita malnutrisi akut yang sangat membahayakan nyawa.

Hampir 10 juta di antaranya berada pada fase malnutrisi berat yang memerlukan penanganan medis intensif agar tidak berakhir dengan kematian.

Krisis gizi ini juga menghantam sekitar 9,2 juta ibu hamil dan menyusui yang tersebar di wilayah-wilayah terdampak konflik berkepanjangan.

Migrasi paksa terus membayangi krisis pangan dengan catatan 85,1 juta orang terpaksa mengungsi demi mencari sumber penghidupan yang lebih layak.

Mayoritas dari pengungsi tersebut berstatus sebagai pengungsi internal yang terisolasi dari jangkauan bantuan logistik internasional yang memadai.

Proyeksi Suram Ketahanan Pangan Tahun 2026

Hingga Maret 2026, indikator tingkat keparahan kelaparan masih menunjukkan status kritis di berbagai titik panas konflik Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik yang terus memanas dikhawatirkan akan mengganggu rantai pasok agrikultur global dan memicu kenaikan harga pangan dunia.

Dunia memerlukan kebijakan struktural yang jauh lebih kuat untuk memutus mata rantai kelaparan yang diprediksi akan terus menetap sepanjang tahun.

Tanpa intervensi kedamaian yang nyata, beban kelaparan global akan terus tertumpu pada pundak negara-negara paling rapuh secara ekonomi.

Laporan ini menjadi peringatan keras bagi para pemimpin dunia agar segera mengalihkan fokus pada penyelamatan nyawa manusia dari ancaman lapar.

Laporan Global Report on Food Crises (GRFC) 2026 disusun oleh konsorsium 18 lembaga kemanusiaan internasional untuk memantau kerawanan pangan global.

Isu utama dalam laporan ini adalah konfirmasi kelaparan atau famine (Fase 5 IPC) di Gaza dan Sudan yang dipicu oleh konflik militer berkepanjangan.

Selain faktor perang, krisis ini diperparah oleh penurunan dana bantuan kemanusiaan global dan perubahan iklim yang menghancurkan lahan pertanian di negara berkembang.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Tag:  #kelaparan #ekstrem #melanda #dunia #2026 #gaza #sudan #paling #parah

KOMENTAR