Kali Pertama, AS Akan Tembakkan Rudal Hipersonik Dark Eagle ke Iran
- Militer AS telah meminta agar senjata hipersonik Dark Eagle dikerahkan ke Timur Tengah.
Senjata ini dapat memberi AS pilihan serangan jarak jauh ke wilayah Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengajukan permintaan untuk Senjata Hipersonik Jarak Jauh (LRHW), menurut Bloomberg dan media lain yang telah mengisyaratkan penyebaran operasional pertama rudal hipersonik AS.
Baik Pentagon maupun Gedung Putih, keduanya belum mengkonfirmasi laporan-laporan tersebut yang muncul di tengah kekhawatiran bahwa peluncur rudal balistik Iran telah dipindahkan ke luar jangkauan sistem AS.
Baca juga: Perang Iran Makin Tak Terkendali, Sesumbar Trump Tak Terbukti?
Pengerahan pertama senjata hipersonik AS
Jika disetujui, Dark Eagle akan menandai pengerahan pertama senjata hipersonik AS, sehingga memungkinkan untuk menyerang target jarak jauh.
Hal ini menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang bakal memberikan "pukulan terakhir" terhadap Iran di tengah kebuntuan negosiasi.
"Saya pikir pengerahan Dark Eagle agak seperti pertunjukan pertempuran," kata Bryan Clark, peneliti senior di Hudson Institute, sebuah lembaga think tank di Washington, dikutip dari Newsweek, Jumat (1/5/2026).
"Angkatan Darat ingin memiliki kesempatan untuk mendemonstrasikannya dalam lingkungan pertempuran, meskipun melawan musuh yang perlengkapannya kurang memadai," sambungnya.
Dua bulan setelah meluncurkan operasi gabungan dengan Israel melawan Iran, Trump memperpanjang gencatan senjata karena Teheran bersikeras akan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz dan nuklirnya.
Baca juga: Peringatan Iran, Campur Tangan AS di Selat Hormuz Akan Melanggar Gencatan Senjata
Spesifikasi Dark Eagle
Senjata jarak jauh ini diklaim mampu menargetkan peluncur rudal Iran yang diduga telah dipindahkan ke luar jangkauan sistem AS yang ada.
Itu termasuk Rudal Serangan Presisi (Precision Strike Missile/PrSM) Angkatan Darat AS, yang dapat menyerang target lebih dari 300 mil jauhnya, menurut Bloomberg.
Secara resmi disebut sebagai Senjata Hipersonik Jarak Jauh (Long-Range Hypersonic Weapon), rudal Dark Eagle berharga setidaknya 15 juta dollar AS atau Rp 260 miliar per unit, dengan beberapa perkiraan menyebutkan harga yang jauh lebih tinggi.
Menurut Army Recognition, sebuah situs web militer, satu baterai rudal yang mencakup peluncur dan peralatan pendukung, diperkirakan berharga sekitar 2,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 46,7 triliun.
Rudal tersebut diuji coba diluncurkan di Florida pada April 2025.
Baca juga: Misi Kemanusiaan, AS Bakal Kawal Kapal untuk Lewati Selat Hormuz
Pilot pesawat tempur AS di atas kapal induk USS Abraham Lincoln di Samudera Hindia, Januari 2026.
Saat itu, Layanan Penelitian Kongres (CRS) mengatakan, setiap unit rudal Dark Eagle akan terdiri dari empat peluncur yang dipersenjatai dengan delapan rudal.
Sistem LRHW memiliki peluncur bergerak, pendorong berbahan bakar padat, dan badan luncur hipersonik, kata Army Recognition.
Lockheed Martin adalah kontraktor utama yang mengintegrasikan sistem ini, sementara Sandia National Laboratories bekerja sama dengan Angkatan Laut pada badan luncurnya dan Aerojet Rocketdyne menyediakan sistem propulsi.
Peluncur dipasang pada trailer M870 yang ditarik oleh truk Heavy Expanded Mobility Tactical Truck (HEMTT). Setiap peluncur membawa dua rudal.
Rudal tersebut menggunakan pendorong dua tahap untuk mencapai kecepatan hipersonik sebelum melepaskan C-HGB (Common-Hypersonic Glide Body).
Sistem ini menggunakan kendaraan luncur hipersonik yang bergerak dengan kecepatan melebihi Mach 5 dan dapat bermanuver saat terbang, sehingga sulit untuk dicegat.
Baca juga: Iran Ajukan Respons 14 Poin ke AS, Apa Saja Isinya untuk Akhiri Perang?
Jangkauan lebih dari 2.700 km
Selain kecepatan dan kelincahannya, rudal ini dilaporkan memiliki jangkauan sekitar 2.735 kilometer.
Ini berarti dapat menyerang jauh ke dalam wilayah musuh, memberikan keuntungan bagi AS dalam menargetkan sistem pertahanan udara Iran, pusat komando, dan lokasi peluncuran rudal.
Dark Eagle adalah bagian dari upaya Pentagon untuk menanggapi perkembangan rudal oleh China dan Rusia, yang telah mulai mengerahkan sistem seperti DF-17 dan Avangard.
"Para pemimpin Pentagon mungkin mencoba meyakinkan diri mereka sendiri dan orang lain bahwa, seperti penggunaan PRISM, JASSM-ER dan senjata serang canggih lainnya yang menggunakan Dark Eagle, ini juga merupakan cara untuk menunjukkan kepada China bahwa senjata kita berfungsi," tutur Clark.
"Ada nilai dalam hal itu, tetapi bukan dengan mengorbankan sebagian besar persediaan yang tersedia," pungkasnya.
Tag: #kali #pertama #akan #tembakkan #rudal #hipersonik #dark #eagle #iran