Kalah Saing dengan China-Vietnam, Apa Kesalahan Industri Kriya RI?
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur(KOMPAS.COM /KIKI SAFITRI)
21:16
1 Mei 2026

Kalah Saing dengan China-Vietnam, Apa Kesalahan Industri Kriya RI?

- Kinerja ekspor sejumlah sektor industri nasional mulai menunjukkan tekanan.

Hal ini tecermin dari rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mencatat sektor berorientasi ekspor berada di level 52,28, melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 52,73 pada Maret 2026.

Dalam periode tersebut, terdapat tujuh sektor industri yang mengalami kontraksi.

Salah satunya adalah industri kayu, barang dari kayu dan gabus di luar furnitur serta anyaman bambu dan rotan (KBLI 16). Pelaku industri mebel dan kerajinan mengakui industri kriya nasional masih terjebak dalam pola persaingan berbasis harga dan volume produksi.

Baca juga: Fesyen dan Kriya Jadi Tulang Punggung Ekspor Ekonomi Kreatif

Kondisi tersebut dinilai menyulitkan Indonesia untuk bersaing dengan negara seperti China dan Vietnam.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia, Abdul Sobur, mengatakan kekuatan Indonesia ada pada desain, budaya, dan craftsmanship.

"Kita bisa naik kelas ke high value market. “Kita tidak bisa terus bermain di volume. Kekuatan Indonesia ada pada desain, budaya, dan craftsmanship. Kita bisa naik kelas ke high value market,” ujar Sobur, Kamis (30/4/2026).

Industri berbasis kayu dipandang tidak lagi bisa mengandalkan strategi lama yang bertumpu pada produksi massal dengan harga murah.

Model tersebut semakin sulit dipertahankan, terutama ketika berhadapan dengan negara-negara yang unggul dalam efisiensi dan skala produksi.

Ia menegaskan produk kriya Indonesia memiliki keunggulan tidak hanya dari sisi fungsi, tetapi juga nilai filosofis yang mampu memperkuat daya saing industri di pasar global.

Penguatan aspek seni dan desain dalam produk kriya menjadi strategis untuk mendorong industri mebel dan kerajinan nasional naik kelas, terutama di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik, subsektor fesyen dan kriya menjadi kontributor utama ekonomi kreatif dengan nilai ekspor mencapai 28,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 476 triliun pada periode Januari-November 2025.

Menurutnya, capaian tersebut perlu terus didorong melalui pendekatan yang lebih terintegrasi.

Ia menilai kolaborasi antara perajin, seniman, dan desainer menjadi kunci agar kriya Indonesia tidak hanya diposisikan sebagai produk komersial, tetapi juga sebagai representasi budaya yang memiliki nilai global.

“Ke depan, kita perlu mendorong integrasi antara perajin, seniman, dan desainer agar kriya Indonesia dapat berkembang tidak hanya sebagai produk, tetapi juga sebagai ekspresi budaya yang diakui secara global,” ujar Sobur.

Salah satu contoh yang menunjukkan kekuatan fungsional sekaligus filosofis industri kriya nasional adalah pameran Tatah Ukir Jepara yang digelar pada 29 April hingga awal Juli 2026 di Museum Nasional Indonesia (Monas), Jakarta.

Pameran tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi kriya Indonesia sebagai bagian dari warisan budaya bernilai tinggi.

Sobur melihat pameran sebagai momentum untuk membaca ulang posisi ukir Jepara, bukan sekadar sebagai kerajinan, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup. “Jepara itu bukan sekadar sentra produksi. Ia adalah ekosistem budaya yang sudah tumbuh ratusan tahun. Ukiran di sana bukan hanya teknik, tetapi warisan pengetahuan,” ungkap dia.

Sejarah mencatat, lanjut Sobur, tradisi ukir Jepara telah berkembang sejak masa kerajaan-kerajaan pesisir Jawa, kemudian mencapai puncak pengaruhnya pada masa R.A. Kartini yang mendorong pengembangan ukir sebagai identitas lokal sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

Dari generasi ke generasi, keterampilan ini diwariskan, bukan melalui institusi formal, tetapi melalui praktik hidup sehari-hari, dari rumah ke rumah, dari bengkel ke bengkel.

Dalam perjalanannya, ukir Jepara tidak berhenti sebagai simbol budaya. Ia tumbuh menjadi kekuatan ekonomi.

Hari ini, industri mebel dan kerajinan di Jepara menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat, melibatkan ratusan ribu orang dalam satu ekosistem yang saling terhubung, dari perajin, pengusaha, pekerja produksi, hingga pelaku ekspor.

Namun, di balik kekuatan itu, Sobur melihat adanya tantangan besar, yakni bagaimana menjaga kedalaman nilai di tengah tuntutan pasar global. “Ketika kriya masuk ke galeri, kita tidak hanya menaikkan nilai ekonomi, tetapi juga mengembalikan martabatnya sebagai ekspresi budaya,” ucapnya.

Baca juga: Pengusaha Dorong Aceh Jadi Basis Industri Mebel Nasional di Luar Jawa

Tag:  #kalah #saing #dengan #china #vietnam #kesalahan #industri #kriya

KOMENTAR