IHSG Murah usai MSCI Depak 19 Saham, OJK Ajak Investor Cermati Peluang
- Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi menjelaskan harga saham Indonesia relatif murah dibandingkan bursa di kawasan.
Rata-rata Price to Earning Ratio (PER) saham-saham Indonesia saat ini berada di bawah rerata bursa regional kawasan Asia dan Asia Tenggara.
PER adalah rasio keuangan yang membandingkan harga saham saat ini dengan laba bersih per saham (Earnings Per Share/EPS) perusahaan. PER sebagai metrik untuk menilai apakah harga saham tergolong mahal (overvalued) atau murah (undervalued)
"PER IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sekarang berada di level 16 kali. Ini sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari 2026, bahkan di bawa rata-rata bursa lainnya,” kata Hasan dikutip dari Kontan, Rabu (13/5/2026).
Baca juga: Saham RI Didepak MSCI, OJK: Jepang, Korea dan China Juga Kena
Momentum ini diharapkan jangan sampai terlewat bagi investor masuk ke pasar modal Indonesia.
Mereka bisa memilih saham-saham terbaik yang prospek di masa depan.
"Investor dapat memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik, yang secara prospektif dapat terus melakukan katakanlah perbaikan kinerja dari waktu-waktu ke depannya," jelasnya.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia per 12 Mei 2026, PER pasar saham Indonesia mencapai 14,98 kali. Sementara itu, rasio Price Book Value (PBV) IHSG berada di level 1,90 kali. Namun, investor masih mencermati beberapa emiten apakah menguntungkan di masa mendatang atau tidak.
Baca juga: IHSG Tertekan usai MSCI Depak 19 Saham, Lo Kheng Hong Malah Borong GJTL
MSCI depak saham Indonesia
Namun, di tengah valuasi yang dinilai murah tersebut, pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan dari perubahan komposisi indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI)..
Meski valuasi saham Indonesia tercatat murah, nyatanya 19 emiten di IHSG didepak dari indeks global MSCI.
Hal ini membuat Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi angkat suara.
Menurutnya, bukan hanya emiten Indonesia saja yang ditendang MSCI, ada dari Korea Selatan, China, dan Jepang.
"Fenomena ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi di hampir seluruh pasar Asia Pasifik pada review kali ini," jelasnya dikutip dari Kompas.com, Rabu (13/5/2026).
Baca juga: OJK Ungkap Ada Saham RI Berpeluang Masuk MSCI, Tertahan Kebijakan Freeze
Perubahan komposisi indeks MSCI wajar terjadi, mereka memiliki parameter untuk memastikan emiten yang masuk indeks memenuhi standar kapitalisasi pasar, likuiditas, dan free float.
"Perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari mekanisme review berkala yang didasarkan pada sejumlah parameter objektif seperti market capitalization, free float, likuiditas, dan dinamika harga saham," jelasnya.
Baca juga: OJK Nilai Koreksi IHSG usai MSCI Masih Wajar, Tak Ada Saham Kena ARB
Meski demikian, keluarnya 19 emiten Indonesia dari indeks MSCI dinilai menjadi pengingat bagi pelaku pasar dan regulator untuk terus memperkuat daya saing pasar modal domestik.
OJK berusaha mendorong penguatan emiten Indonesia yang siap saing ke kancah global.
"OJK bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus mendorong penguatan integritas pasar, peningkatan free float dan likuiditas, perluasan basis investor, serta penguatan tata kelola emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan," katanya.
Baca juga: MSCI Depak Sejumlah Saham RI, OJK: Ini Short Term Pain Reformasi Pasar
Artikel ini pernah tayang di Kontan dengan judul "OJK Nilai Valuasi Saham Indonesia Sudah Murah, Saatnya Investor Masuk?" dan "Saham RI Didepak MSCI, OJK: Jepang, Korea dan China Juga Kena"
Tag: #ihsg #murah #usai #msci #depak #saham #ajak #investor #cermati #peluang