Rupiah Melemah, Ini Prediksi BI Rate dan Dampaknya ke IHSG
- Pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi perhatian pelaku pasar tanah air, terutama menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI), Rabu (20/5/2026).
Kurs rupiah di pasar spot masih tertekan pada awal perdagangan Rabu pagi.
Mata uang Garuda dibuka di level Rp 17.738 per dollar AS, melemah 0,18 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di posisi Rp 17.706 per dollar AS.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, pasar menanti arah kebijakan suku bunga acuan atau BI-Rate yang dinilai akan menentukan sentimen pasar keuangan domestik.
Baca juga: Rupiah Pagi Masih Melemah, IHSG Merah
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memperkirakan Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen, meskipun konsensus pasar sebelumnya memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.
Menurutnya, BI tidak akan mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga hanya untuk merespons pelemahan rupiah secara reaktif.
Bank sentral diyakini cenderung memilih strategi intervensi langsung di pasar valuta asing dan obligasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dibandingkan menaikkan suku bunga acuan.
Langkah tersebut dinilai lebih seimbang karena BI tetap dapat menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi maupun stabilitas fiskal nasional.
“BI sejatinya tidak akan mengorbankan ruang pertumbuhan ekonomi Indonesia dan stabilitas fiskal hanya untuk merespons pelemahan rupiah secara reaktif via suku bunga,” ujar Nafan kepada Kompas.com, Rabu pagi.
“Oleh sebab itu, forecast kami untuk BI-Rate ialah tetap pada level 4,75 persen di tengah konsensus yang menetapkan kenaikan sebesar 25 bps menjadi 5,0 persen seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah,” paparnya.
Keputusan BI mempertahankan suku bunga akan menjadi sinyal bahwa otoritas moneter masih fokus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global dan volatilitas pasar keuangan.
Di sisi lain, investor juga mencermati pidato arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR pada Rabu ini.
Pelaku pasar menunggu kejelasan terkait strategi pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi, arah kebijakan fiskal, serta langkah konkret merespons tekanan di pasar keuangan.
Nafan menilai apabila pidato Presiden mampu memberikan kepastian dan keberpihakan pada stabilitas pasar, maka peluang terjadinya technical rebound di pasar saham domestik masih terbuka.
“Apabila pidato ini memberikan kepastian dan keberpihakan pada stabilitas pasar, peluang terjadinya technical rebound terbuka lebar. Sebaliknya, bila dinilai kurang konkret, tekanan jual bisa berlanjut,” tukas dia.
Dari pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan tekanan, meskipun secara teknikal mulai memasuki area oversold berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI). IHSG juga disebut telah berhasil menguji target wave 5/A.
Meski demikian, indikator Stochastics K_D masih menunjukkan sinyal negatif, walaupun volume perdagangan mulai mengalami kenaikan.
IHSG berbalik menguat pada perdagangan Rabu pagi atau sekitar pukul 09.51 WIB, setelah sebelumnya sempat bergerak di zona merah pada awal sesi.
IHSG tercatat naik 62,086 poin atau 0,97 persen ke level 6.432,765.
Indeks dibuka di posisi 6.352,202 dan sempat menyentuh angka terendah di 6.282,157.
Namun, tekanan beli yang meningkat membuat indeks berbalik menguat hingga mencapai area tertinggi di 6.433,372.
Penguatan IHSG juga diikuti membaiknya mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebanyak 363 saham menguat, lebih banyak dibandingkan 231 saham yang melemah.
Sementara 141 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan terpantau ramai dengan volume transaksi mencapai 8,230 miliar saham.
Nilai transaksi sebesar Rp 4,687 triliun dengan frekuensi perdagangan menyentuh 599.734 kali transaksi.
Baca juga: Purbaya Sebut di Tengah Tekanan Rupiah, Dana Asing Mulai Masuk ke Obligasi RI