Iran Kebanjiran Minyak Tak Terjual Imbas Blokade AS, Tangki Bekas Jadi “Penyelamat”
Iran tengah menghadapi lonjakan stok minyak yang tak terserap pasar akibat blokade laut Amerika Serikat yang menghambat ekspor.
Blokade yang diberlakukan Amerika Serikat sejak 13 April membuat ekspor minyak Iran merosot tajam, menurut laporan The Wall Street Journal, Senin (27/4/2026).
Data Kpler menunjukkan, pengapalan minyak mentah dan kondensat Iran turun dari rata-rata 2,1 juta barrel per hari pada 1–13 April menjadi hanya 567.000 barrel per hari antara 14–23 April.
Baca juga: Kapal-kapal Tanker Iran Macet di Selat Hormuz, Blokade AS Sukses?
Sebelum konflik, tepatnya pada Februari, Iran masih mampu mengekspor sekitar 2 juta barrel per hari. Kini, dengan akses terbatas ke kapal tanker, minyak yang tak bisa dikirim keluar negeri terus menumpuk di dalam negeri.
Tangki tua hingga container jadi tempat penyimpanan
Untuk menghindari krisis infrastruktur, Iran mulai menghidupkan kembali fasilitas penyimpanan lama yang sudah lama terbengkalai, yang disebut sebagai “junk storage”.
Selain itu, minyak juga disimpan di kapal tanker yang menganggur di laut serta dalam kontainer improvisasi.
Beberapa tangki tua di pusat minyak selatan seperti Ahvaz dan Asaluyeh bahkan kembali digunakan, meski sebelumnya dihindari karena kondisi yang buruk.
Langkah-langkah ini diambil demi menunda kondisi terburuk ketika kapasitas penyimpanan benar-benar habis.
Upaya kirim minyak lewat rel ke China
Selain penyimpanan darurat, Iran juga mencoba menyalurkan minyak melalui jalur kereta menuju China.
Infrastruktur rel menghubungkan Teheran dengan kota-kota seperti Yiwu dan Xi’an, namun pengiriman ini memakan waktu berminggu-minggu dan jauh lebih mahal dibanding pengiriman laut.
Jalur ini juga dinilai kurang menarik bagi kilang independen China yang dikenal sebagai “teapot”, karena margin keuntungan mereka tipis dan sensitif terhadap biaya tambahan.
Baca juga: Sekutu Sebut AS Dipermalukan Iran di Meja Perundingan, Puji Kemampuan Teheran
Risiko produksi dihentikan
Pulau Kharg memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi Teheran karena menjadi titik keberangkatan bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.
Dengan kapasitas penyimpanan yang terus terisi, Iran berisiko mencapai kondisi “tank tops”, yaitu saat seluruh ruang penyimpanan penuh.
Banyak analis memperkirakan kondisi ini bisa terjadi dalam waktu kurang dari dua minggu.
Jika itu terjadi, Iran mungkin terpaksa menghentikan produksi minyaknya. Direktur program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House, Sanam Vakil, mengatakan, “Penutupan produksi akan menambah tekanan dan memotivasi negosiasi.”
Penghentian produksi juga berisiko merusak ladang minyak, terutama yang sudah tua dan bertekanan rendah.
Sekitar setengah ladang minyak Iran masuk kategori ini, sehingga rentan mengalami kerusakan jangka panjang jika produksi dihentikan mendadak.
Dampak global
Krisis ini menjadi bagian dari pertarungan antara Iran dan Amerika Serikat terkait Selat Hormuz.
Iran sebelumnya mengganggu jalur pelayaran dengan menyerang sekitar dua lusin kapal, sebelum akhirnya AS memperketat blokade untuk menekan ekonomi berbasis minyak Iran.
Di tengah kebuntuan negosiasi, Iran menawarkan penghentian serangan di Selat Hormuz dengan imbalan diakhirinya perang dan pencabutan blokade. Namun, pembicaraan belum menunjukkan kemajuan berarti.
Sementara itu, pasar global mulai merasakan dampaknya. Harga minyak Brent naik hampir 3 persen menjadi 108,23 dollar AS (sekitar Rp 1,8 juta) per barrel.
Kenaikan ini turut mendorong harga bahan bakar seperti bensin dan solar, serta menekan pasokan produk energi seperti bahan bakar jet.
Baca juga: Selat Hormuz Jadi Taruhan, Iran Minta Isu Nuklir Tak Dibahas Dulu
Tag: #iran #kebanjiran #minyak #terjual #imbas #blokade #tangki #bekas #jadi #penyelamat