Rupiah Diklaim Lebih Tahan Banting dari Mata Uang Negara Lain
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) resmi menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 10 Tahun 2025 yang mengatur insentif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 ditanggung pemerintah (DTP) bagi pekerja di sektor tertentu.(UNSPLASH/MUFID MAJNUN)
15:12
5 Mei 2026

Rupiah Diklaim Lebih Tahan Banting dari Mata Uang Negara Lain

Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan Selasa (5/5/2026). Rupiah dibuka di level Rp 17.420 per dollar Amerika Serikat.

Tekanan muncul di tengah gejolak global. Konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan di pasar keuangan.

Meski melemah, pergerakan rupiah dinilai masih terkendali. Posisi rupiah relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara berkembang lain.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menyebut tren ini sejalan dengan pasar global.

“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya,” ujar Erwin di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.400, BI Sebut Pelemahan Masih Sejalan dengan Mata Uang Emerging Market

Data menunjukkan pelemahan rupiah sekitar 3,65 persen sejak awal konflik. Angka ini lebih rendah dibandingkan peso Filipina yang turun 6,58 persen dan baht Thailand 5,04 persen. Rupee India melemah 4,32 persen dan peso Chile 4,24 persen. Won Korea mencatat pelemahan 2,29 persen.

Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan di berbagai pasar, termasuk Non-Deliverable Forward (NDF) offshore, transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,” kata Erwin.

Tekanan rupiah beriringan dengan kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini memperbesar dampak ke ekonomi domestik.

Harga minyak melonjak tajam pada awal pekan. Minyak Brent naik 6,27 dollar AS menjadi 114,44 dollar AS per barrel. Minyak West Texas Intermediate naik 4,48 dollar AS ke level 106,42 dollar AS per barrel.

Baca juga: Rupiah Jebol ke Rp 17.400 per Dollar AS, Harga Komoditas Naik, Daya Beli Masyarakat Tertekan?

Kenaikan ini dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah. Gangguan pasokan membuat harga energi naik dan meningkatkan tekanan inflasi global.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kombinasi rupiah lemah dan harga minyak tinggi mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri.

“Kita lihat bahwa hari ini harga-harga semua mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kita melihat bahwa barang-barang impor, elektronik, pupuk, kemudian komoditas, kacang kedelai, kemudian gandum, ya ini pun juga mengalami kenaikan,” ujar Ibrahim.

Kenaikan harga juga terjadi pada plastik. Bahan ini penting untuk sektor industri dan kemasan, sehingga dampaknya meluas ke berbagai lini produksi.

Kondisi ini berpotensi menekan daya beli. Biaya hidup meningkat, terutama untuk barang impor dan kebutuhan pokok berbasis komoditas global.

Pasar kini menunggu arah ekonomi domestik. Data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 menjadi perhatian utama.

Kekhawatiran muncul terkait kondisi fiskal dan cadangan devisa. Tekanan eksternal membuat ruang kebijakan menjadi lebih terbatas.

“Ini harus hati-hati, apakah sesuai dengan target pemerintah di atas 5,5 persen atau di bawah 5,5 persen,” ujar Ibrahim.

Ia juga mendorong pemerintah mencari sumber pendanaan baru untuk menjaga stabilitas fiskal. Salah satu opsi yang disampaikan adalah penyesuaian program prioritas.

“Nah ini yang harus diperhatikan sehingga pemerintah saat ini tugas pemerintah untuk mendapatkan “uang segar”, selain memindahkan dana-dana, menghentikan sementara untuk MBG, kemudian Koperasi Merah Putih juga dihentikan sementara,” tukas Ibrahim.

Tag:  #rupiah #diklaim #lebih #tahan #banting #dari #mata #uang #negara #lain

KOMENTAR