Negara-negara BRICS Sedang Gencar Memborong Emas, Ada Apa?
Presiden Prabowo Subianto berfoto bersama para pemimpin negara anggota BRICS sebelum dimulainya KTT BRICS ke-17 di Modern Museum of Arts, Rio de Janeiro, Brasil, Minggu (6/7/2025).(WIKIMEDIA COMMONS/PRIME MINISTER'S OFFICE)
19:42
21 April 2026

Negara-negara BRICS Sedang Gencar Memborong Emas, Ada Apa?

 Sejumlah negara dalam kelompok BRICS dalam beberapa tahun terakhir gencar meningkatkan pembelian emas sebagai bagian dari strategi cadangan devisa.

World Gold Council dalam laporannya yang dikutip Selasa (21/4/2026) menyebut negara-negara BRICS kini menguasai lebih dari 6.000 ton emas.

Jumlah tersebut setara sekitar 17,4 persen dari total cadangan emas bank sentral dunia. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan sekitar 11,2 persen pada 2019.

Di dalam kelompok tersebut, Rusia tercatat sebagai pemilik emas terbesar dengan sekitar 2.336 ton, disusul China sekitar 2.298 ton dan India sekitar 880 ton.

Peningkatan ini sejalan dengan tren global, di mana pembelian emas oleh bank sentral dalam beberapa tahun terakhir secara konsisten melampaui 1.000 ton per tahun.

Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan rata-rata 400 hingga 500 ton per tahun pada dekade sebelumnya.

Selain itu, negara-negara BRICS menyumbang lebih dari separuh total pembelian emas bank sentral global sepanjang periode 2020–2024, yang menegaskan peran dominan mereka dalam mendorong permintaan emas dunia.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini 19 April 2026: Galeri24, UBS, dan Antam Kompak Naik

Mengapa negara BRICS memborong emas?

Ilustrasi emas. Freepik Ilustrasi emas.

Dilansir dari Goldsilver, negara-negara BRICS meningkatkan pembelian emas setidaknya karena tiga alasan utama.

Pertama, yakni mengurangi ketergantungan pada dollar AS. Kedua, melindungi cadangan devisa dari risiko sanksi. Ketiga, sebagai lindung nilai terhadap tekanan utang global yang bukan berasal dari mereka. Keempat, membangun sistem keuangan pasca dollar.

Selengkapnya berikut penjelasan secara rinci mengapa negara-negara BRICS memborong emas.

1. De-dollarisasi

Porsi dollar AS dalam cadangan devisa global terus menurun, dari sekitar 71 persen pada 1999 menjadi sekitar 57 persen saat ini.

Angka ini merupakan level terendah sejak 1994 berdasarkan data IMF COFER.

Dalam kondisi ini, negara-negara BRICS tidak beralih ke euro atau yuan, melainkan memilih emas sebagai aset cadangan karena tidak memiliki penerbit, tidak bergantung pada pihak lawan, dan bebas dari yurisdiksi politik.

Baca juga: Kenapa Xi Jinping dan Putin Tak Hadiri Pertemuan Puncak BRICS?

2. Perlindungan dari sanksi

Aset dalam denominasi dollar yang disimpan di luar negeri berisiko dibekukan, sedangkan emas yang disimpan di dalam negeri tidak dapat dikenai pembekuan.

Sejak 2022, perbedaan ini menjadi faktor krusial dalam strategi pengelolaan cadangan devisa negara.

3. Lindung nilai terhadap pelemahan dollar

Dengan utang federal AS yang telah melampaui 39 triliun dollar AS per Maret 2026 serta proyeksi defisit tahunan sekitar 1,9 triliun dollar AS, negara-negara berkembang mulai mengantisipasi risiko tersebut.

Emas dipilih karena menjadi salah satu aset yang tidak dapat “dicetak” oleh pemerintah.

4. Membangun sistem keuangan pasca-dollar

Upaya menuju sistem keuangan alternatif juga mulai terlihat.

Pada 31 Oktober 2025, peneliti dari International Research Institute for Advanced Systems (IRIAS) memperkenalkan proyek percontohan “Unit”, yakni instrumen perdagangan digital berbasis emas dengan komposisi 40 persen emas dan 60 persen mata uang BRICS.

Meski masih bersifat inisiatif riset, langkah ini menunjukkan arah penggunaan emas sebagai fondasi sistem keuangan paralel di masa depan.

Pembekuan cadangan Rusia senilai sekitar 300 miliar dollar AS (sekitar Rp 5,1 kuadriliun) oleh negara Barat pada 2022 menjadi bukti nyata risiko tersebut.

Dalam kondisi ini, aset berbasis dollar dinilai bisa hilang dalam waktu singkat, sedangkan emas dianggap lebih aman karena tidak dapat disita.

Pada April 2026, harga emas tercatat mendekati 4.850 dollar AS (sekitar Rp 83,1 juta) per ons, naik lebih dari 40 persen dalam setahun, dan negara-negara BRICS tetap mempercepat pembelian.

Fenomena ini dinilai bukan semata soal kenaikan harga, melainkan mencerminkan cara pandang baru negara berkembang besar terhadap uang, risiko, dan dominasi dollar dalam sistem keuangan global.

Baca juga: Penampilan Perdana Prabowo di BRICS, Apa Saja yang Perlu Diketahui?

Apa itu negara-negara BRICS?

BRICS merupakan kelompok negara berkembang utama yang secara sengaja menjadikan peningkatan cadangan emas sebagai bagian dari kebijakan strategis.

Awalnya beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, blok ini kemudian diperluas dengan masuknya Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab pada Januari 2024, disusul Indonesia pada Januari 2025.

Dengan begitu, total anggota penuh BRICS menjadi sepuluh negara.

Sementara itu, Arab Saudi telah diundang tapi belum mengonfirmasi keanggotaan resminya, dan Argentina memilih tidak bergabung pada akhir 2023.

Saat ini, BRICS mewakili sekitar 40 persen produk domestik bruto (PDB) global berdasarkan paritas daya beli serta hampir setengah populasi dunia.

Dengan skala ekonomi sebesar itu, setiap keputusan kolektif terkait cadangan devisa termasuk pembelian emas dinilai mampu memengaruhi pasar secara struktural, bukan sekadar berdampak sementara.

Baca juga: Trump Ancam Tambah Tarif 10 Persen untuk Negara yang Merapat ke BRICS

Tag:  #negara #negara #brics #sedang #gencar #memborong #emas

KOMENTAR